Kekerasan di Kalangan Pelajar
Tindak kekerasan di lingkungan pendidikan kian marak saja. Para kandidat intelektual yang seharusnya menjadikan sekolah dan kampus sebagai basis dan ruang berekspresi keilmuan, justru malah suka mengumbar aksi-aksi agresif, pamer otot, dan kekerasan. Akhirnya, nilai-nilai moral, etika dan keluhuran budi yang seharusnya melekat ke dalam kepribadian dan jati diri pun kian mengapung hingga akhirnya kabur terbawa arus peradaban yang terus bertindak kekerasan.
Sudah sedemikian parahkah atmosfer dalam lingkungan dunia pendidikan kita sehingga gagal memberikan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam nurani insan sekolah dan kampus? Apakah tidak ada lagi ruang yang tepat bagi mereka untuk menyalurkan berbagai talenta yang dapat mencerahkan untuk masa depan?
Tantangan yang mesti dihadapi kaum muda, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa, saat ini memang semakin rumit dan kompleks. Mereka tidak saja dihadapkan pada kompleksnya situasi internal psikologis, tetapi juga mesti menghadapi atmosfer peradaban yang makin “keras”. Dalam situasi demikian, disadari atau tidak, seringkali mereka terjebak pada sikap pragmatis dengan menempuh cara-cara yang dianggap paling tepat untuk mengekspresikan naluri agresivitas yang ada dalam dirinya ketika hasrat yang diharapkan tidak segera terwujud. Salah satu naluri agresivitas yang paling dekat dengan kaum remaja adalah naluri kekerasan itu.
Ada beberapa faktor psikologis seseorang dalam melakukan kekerasan:
Faktor Internal. Faktor internal individu bisa dikaitkan dengan 3 hal seperti frustasi, pengalaman penelantaran dan kepribadian. Frustasi merupakan salah satu sumber mengapa mereka melakukan tindak kekerasan. Adanya pengalaman penelantaran di masa kecil, akibatnya pada saat mereka tumbuh besar akan mudah sekali melakukan tindakan kekerasan kepada orang lain. Sekarangpun masih banyak ditemui kasus anak yang mendapat pengasuhan dengan pola kekerasan. Faktor kepribadian juga mempengaruhi. Seseorang dengan kepribadian yang terlalu agresif dicirikan dengan sikap yang mudah tersinggung dan destruktif (penghancur) bila menghadapi situasi yang kurang menyenangkan bagi dia walaupun hal itu hanyalah hal sepele sekalipun.
Faktor Keluarga. Lingkungan keluarga yang diwarnai dengan kekerasan jelas berdampak pada anak. Anak tersebut akan belajar bahwa kekerasan merupakan bagian dari dirinya, sehingga dia sering melakukan tindak kekerasan. Beberapa hal yang terkait faktor keluarga antara lain: pola asuh, problem psikologis orang tua dan keluarga yang disfungsional.
Faktor Sekolah. Di sekolah mereka juga jarang mendapatkan ruang yang tepat untuk bisa berekspresi secara bebas. Setiap hari, mereka harus berhadapan dengan tugas-tugas dari sekolah yang menumpuk. Banyak guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, otoriter dalam mendidik siswanya maka membuat para siswanya memilki perasaan kesal. Kekesalan yang tidak terselesaikan akan berakumulasi pada tekanan kejiwaan, putus asa, frustasi atau depresi. Hasilnya bisa menjadi kekesalan yang meledak-ledak, dan akhirnya dilampiaskan dengan tawuran, kericuhan atau bentuk tindak kekerasan lainnya.
Faktor Lingkungan. Lingkungan sekitar juga turut serta berpengaruh terhadap kekerasan baik langsung atau secara tidak langsung. Misalnya tanyangan televisi yang memunculkan tanyangan yang berbau kekerasan, hidup di lingkungan preman, berbagai macam games yang memberikan efek kekerasan.
Ini artinya, anak-anak makin kehilangan ruang keceriaan yang seharusnya mereka dapatkan. Lingkungan keluarga dan sekolah belum mampu memberikan ruang yang nyaman bagi mereka untuk berekspresi yang sesuai dengan tuntutan perkembangan jiwanya.
Dalam kondisi demikian, perlu gerakan sinergis dan konkret untuk menanggulangi ancaman kekerasan yang terus menghinggapi ruang batin dan memori kaum terpelajar kita. Pengembangan dan pengakaran pendidikan karakter tidak cukup diserahkan di sekolah, tetapi juga perlu diimbangi dengan intensifnya penanaman nilai karakter dan kultural di tengah-tengah lingkungan keluarga. Yang tidak kalah penting, tentu saja keteladanan kaum elite kita agar tidak suka mengumbar nafsu serakah yang diperontonkan secara masif dan vulgar di ruang-ruang publik. Tanpa gerakan sinergis semacam itu, penanggulangan aksi kekerasan hanya akan menjadi slogan dan terus akan menjadi ancaman yang sudah melekat yang suatu ketika akan menjadi ledakan sosial yang makin parah.
Referensi:
http://bundaarina.blogspot.com/
http://sawali.info/